Tayangan video mampu menggerakkan perhatian dan emosi penonton. Partai Demokrat tampaknya memahami betul hal ini. Melalui tayangan video raksasa, sosok Agus Harimurti Yudhoyono ditampilkan sesaat sebelum dia menyampaikan pidato politik dalam Rapat Pimpinan Nasional Partai Demokrat, di Sentul Bogor, (11/3).
Muda, energik, inovatif, dan cerdas. Begitu setidaknya citra Agus yang bisa ditangkap ribuan kader Demokrat yang menghadiri acara tersebut dari tayangan video itu.
Dalam video tersebut, diperlihatkan aktivitas dan torehan prestasi Agus, putra presiden ke-6 RI sekaligus Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, saat bertugas di TNI. Disebutkan juga prestasi akademiknya.
Lewat sejumlah gambar, juga ditunjukkan aktivitasnya bersama rakyat. Gambar itu diperkuat dengan narasi bahwa Agus dekat dengan rakyat dan memahami kebutuhan rakyat. Agus pun disebut sebagai harapan untuk membawa Indonesia ke arah lebih baik.
Ketika video usai dan Agus muncul dengan rambut tersisir rapi, memakai jas berwarna biru dan dasi merah, para kader antusias menyambut. Mereka beranjak dari kursi, bertepuk tangan, sambil terus meneriakkan, ”AHY”.
Sekitar tujuh menit lamanya sambutan ini terlihat, hingga tiba waktu Agus pidato. Tepuk tangan kembali terdengar beberapa kali saat Agus pidato, dan puncaknya setelah Agus menyampaikan pidatonya.
”Tidak ada lagi yang ditutup-tutupi, tadi (acara) terbuka. Kami menawarkan, menyiapkan Mas AHY sebagai pemimpin baru,” ujar Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Panjaitan tentang pidato politik Agus.
> Tidak mustahil <
Muda tetapi bisa menjadi pemimpin negara bukan hal yang mustahil. Dalam satu tahun terakhir, para pemimpin muda muncul di sejumlah negara. Di Perancis, misalnya, Emmanuel Macron terpilih menjadi presiden tahun lalu pada usia 39 tahun. Kemudian, di Austria, Sebastian Kurz berhasil menjadi kanselir tahun lalu pada usianya yang masih 31 tahun.
Kurz telah meniti karier di politik sejak usia 24 tahun saat terpilih menjadi ketua sayap pemuda Partai Rakyat (OVP). Dari sana, dia terpilih sebagai anggota Dewan Kota Vienna tahun 2010.
Selanjutnya, tahun 2011 Kurz menjadi Menteri Integrasi Austria. Tahun 2013, Kurz terpilih menjadi anggota parlemen, kemudian menjadi Ketua OVP pada pertengahan tahun 2017.
Adapun Macron pernah tiga tahun bergabung dengan Partai Sosialis. Kemudian, ia menjabat staf pribadi Presiden Francois Hollande dan menjadi Menteri Perekonomian, Industri, dan Urusan Digital di bawah pemerintahan Perdana Menteri Manuel Valls.
Karier politiknya melambung setelah tahun 2016 dia meluncurkan gerakan ”En Marche!”. Gerakan ini kemudian menjadi kendaraan politiknya untuk bisa menjadi pemimpin Perancis.
Bagaimana dengan Agus? Usianya baru 39 tahun. Sejak lulus Akademi Militer tahun 2000, dia berkarier di TNI dengan pangkat terakhir mayor. Dia mundur dari TNI tahun 2016 untuk maju sebagai calon gubernur di Pilkada DKI Jakarta 2017 dengan Demokrat sebagai salah satu partai pengusungnya.
Di sini karier politik Agus dimulai. Setelah tidak terpilih dalam pilkada, dia menjabat Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Pemenangan Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 Partai Demokrat.
Karier politik sekaligus popularitas yang diperoleh Agus banyak dinilai tidak bisa dilepaskan dari peran dan popularitas ayahnya, Susilo Bambang Yudhoyono.
Dengan rekam jejaknya selama ini, apakah Agus sudah cukup untuk menjadi pemimpin muda bangsa selanjutnya menyusul Macron di Perancis dan Kurz di Austria? Publik yang akan menilainya….


